CERPEN : SESUNYI ITUKAH
DUNIAMU?
(Sugesti Yoan
Ahmad Yani)
Kusut…
Memang
nampak kusut baju ini bila dipandang dari mata-mata lentik manusia yang berdasi
dan berkecukupan disana. Namun, hanya ini sisa pakaian waras yang bisa kugantungkan
pada tubuh lemahku ini. Diantara bongkahan sampah dan tempat penyakit bersarang
aku bernaung. Tempat yang tak layak disebut sebagai sebuah rumah bahkan mungkin
disebut sebagai rumah anjing pun tak layak. Beratapkan seng –seng yang berkarat.
Terik matahari pun bisa menembus sela-sela atap rumahku.
Seringkali
ku menjerit dalam diam. Merasa sepi diantara hiruk pikuk ramainya kota ini. Terisak-isak
dalam kerapuhan yang mendera dunia ini. Bagaimana tidak, melihat anak seusiaku
bersekolah, belajar,bersenda gurau, menikamti masa remjanya dengan baik dan
juga bisa bermain dengan leluasanya tanpa memikirkan akan makan apa nanti dan
besok akan ada makan atau tidak.
Malang..
Memang
malang benar nasib ini, mungkin orang lain memimpikannya pun tak sanggup dan
tak akan mampu. Aku hidup bersama ayahku. Ibuku telah lama meninggal setelah
melahirkan adikku. Adikku seorang perempuan, sama sepertiku. Namun, aku jauh
lebih bersyukur karna aku memiliki fisik yang lebih sempurna dibandingkan dia.
Dia tak bisa mendengar.
Dengan
sabar, setiap hari aku memandikannya, menyuapinya makan, dan mengajaknya
bermain supaya tidak bosan. Bahkan jika memungkinkan seringkali aku mengajaknya
untuk menjual kerupuk hasil produksi tetanggaku. Seketika itu, setiap kali aku
mengajak adikku untuk berjualan denganku, anak-anak seusia adikku mengejek
adikku.
“Ga
bisa dengar.” Ejek anak itu.
“Tuli…
Tuli … Tuli” sahut anak yang lain dengan kencangnya sambil mengelilingi kami.
Tanpa
emosi, atau marah sedikitpun aku terus berjalan dengan menggandeng tangann
adikku dengan eratnya. Hingga adikku bertanya dengan bahasa tubuhnya dan
ekspresi wajahnya. Lalu aku menjawab ;
“Tidak,
tidak, tidak ada apa-apa” ucapku ambil menggelengkan kepala dan menggerakkan
tanganku ke kanan dan ke kiri.
Adikku
tersenyum dan menggenggam tanganku dengan sangat erat, mungkin saja hati
nuraninya merasakan sesuatu bahkan mungkin sedang menjerit. Karna
keterbatasanku dalam memahami bahasa yang aku gunakan untuk berkomunikasi
dengan adikku aku hanya berdoa kepada sang pencipta, untuk selalu dikuatkan dan
diberi jalan yang terbaik.
Setelah
seharian berkeliling, waktunya sholat dzuhur tiba, kemudian aku mampir ke
sebuah masjid yang besar di tengah kota. Aku sempat tersentak karena masjid
sebesar namun jamaahnya hanya bisa dihitung dengan jari saja. Astaghfirullohal’adzim.. sambil mengusap
dada. Setelah sholat aku kembali
berkeliling untuk mengais rejeki. Selain kerupuk aku juga berkeliling menjual
bunga-bunga dari plastik hasil kerajinan masyarakat setempat. Sampai jarum jam
menunjuk angka 2, belum ada satu daganganku pun laku terjual. Aku melihat
adikku yang mungkin saja kelelahan, akhirnya aku menyuruh adikku untuk
beristirahat di bawah pohon yang cukup rindang. Hingga dia tertidur.
Karena
dia tertidur aku melanjutkan jualanku dan membelikannya makanan. Setelah
melanjutkan berjualan, tak jauh dari tempat itu ternyata ada yang membeli.
“Hey
hey nak beli kerupuknya..” sahut seorang wanita paruh baya.
Sejenak
saya berbalik arah dan menghampirinya.
“Iya
bu, mau beli berapa bu?” tanyaku dengan nada suara lemah, dan dengan ekspresi
wajah penuh kesyukuran.
“Semuanya
berapa nak?” jawab wanita itu.
Sontak
aku kaget dan tercengang. Kemudian ibu itu menegaskan lagi. “Boleh tidak nak?”
Lalu
aku menjawab dengan terbata-bata dan sedikit mengeluarkan tetes air mata.
“Bo..bo..leh bu, totalnya Rp.15.000”
“Ini
nak, uangnya.” Sambil memberikan uangnya.
“Terima
kasih bu, terima kasih banyak.” Jawabku.
“Iya,
nak. Sama- sama. Oh iya nak, berapa harga bunga per ikatnya?” tanya lagi ibu
itu.
“
Rp. 1500 bu..” ucapku.
“Boleh
ibu membeli semuanya?” tanya ibu itu.
“Beli
banyak sekali untuk apa bu?” jawabku
“Buat,
anak-anak ibu nak? Boleh tidak?” sahutnya.
“Boleh
bu, totalnya Rp. 15,000.00” ucapku.
“Oh,
baiklah, ini nak..” sambil menyerahkan uangnya kepadaku.
“Bu,
maaf saya tidak ada kembaliannya, ada uang pasnya saja bu? “ ucapku sambil
menyerahkan uang kepada ibu itu.
“Tidak
nak..” ungkapnya.
“
Ya sudah bu, bunganya diambil saja dulu, besok saya kesini lagi.” Tegasku.
“Oh,
jangan seperti itu, nanti apa kata supplier kamu jika bunganya habis tapi tidak
ada uangnya. Ini ambil saja kembaliannya.” Paksa ibu itu.
“Tidak
bu, tidak bisa. Ini baru ada Rp. 15 .000, besok saya kesini lagi untuk
mengembalikan uang kembaliannya.”
“Tidak
usah nak, ibu ikhlas..” paksa ibu itu.
“Jangan
seperti itu bu, sekarang mencari uang itu susah.” Tegasku lagi.
“
Iya nak, besok kesini lagi tidak apa-apa, terima kasih banyak. Kamu anak yang
sangat jujur dan baik hati.” Kata ibu itu.
“Terima
kasih bu, baru ibu yang mengatakan saya demikian selama hampir 10 tahun yang
lalu, ketika usiaku baru 7 tahun.”
Setelah
berpamitan dengan ibu itu, aku langsung membeli makanan, berharap adikku masih
tidur nyenyak disamping pohon dan ketika bangun sudah ada makanan disampingnya.
Selang beberapa lama, aku kembali ke tempat adikku terlelap lagi sambil membawa
bungkusan nasi rames dengan lauk tempe goreng kesukaannya.
Setelah
sampai, sontak aku terkejut dan limpung dibuatnya. Adikku sudah tak ada disitu.
Aku bergegas mencari adikku ke sekeliling. Hingga terdengar adzan maghrib aku
masih mencarinya namun tak ada tanda-tanda apapun. Aku berpikir kalau dia di
culik. Karena dari tampilan fisiknya terlihat seperti orang normal, bahkan
lebih cantik, seperti keturunan chinese.
Aku
juga terperanjat karena belum sholat ashar. Seketika itu, aku menangis
terisak-isak hingga tergugu. Bahkan ketika sholat maghrib di mushola sekalipun.
Aku tak berani pulang karena takut dipukul ayah karena teledor. Pikiranku kacau
saat itu, semalaman aku tak pulang, terus mencari adikku dengan langkah kecilku,
aku bahkan lupa jika belum menelan satu butir nasipun sejak pagi.
Aku
tetap mengkhawatirkan nasib adikku, aku tidak habis pikir jika adikku sendirian
di keramaian kota, tanpa bisa mendengar sedikitpun dan tak bisa berkomunikasi
dengan orang lain. Pikiran-pikiran buruk selalu menyelimutiku. Bertanya
kesana-kemari tidak satu orangpun yang melihatnya. Aku kacau kala itu, hingga
tak sadarkan diri di tepi jalan. Kemudian aku ditolong oleh orang sekitar, dan
dibawa ke puskesmas terdekat.
Aku
tersadar..
Kala
itu, aku kalut, dan terus memanggil- manggil adikku. Dan segera aku melepas
semua peralatan medis yang ada dibadanku. Aku bergegas pergi, namun aku ditahan
oleh dokter yang merawatku. Dokternya masih muda, dan sangat tampan. Aku tak
bisa lepas dari dekapannya. Kemudian aku berbaring lagi di tempat tidur
puskesmas dan aku disuapi oleh dokter itu.
Bahkan
setelah itu, aku diijinkan untuk pergi tanpa membayar biaya administrasi. Aku
melanjutkan untuk mencari keberadaan adikku. Aku pulang ke rumah, namun ayahku
tak ada disana, bahkan nampak dari kondisi rumah sepertinya tak ada tanda-tanda
jika dia pulang semalam. Aku tak memperdulikan itu. Aku terus mencari adikku
hingga tak berjualan.
Selang
3 hari kemudian, ayahku pulang, dan dia menanyakan keberadaan Ina.
“Rum,
adikmu kemana?” tanya ayahku dengan nada suara lembut.
“Itu,
yah.. anu.. anu..” jawabku sambil terbata-bata
“Itu
apa, jawab yang jelas, ditanya orang tua malah seperti orang gagu.” Tegasnya.
“Ina..
Ina.. Ina hilang yah.” Sambil menangis tersedu.
“Bodoh,
kamu kemanakan anak tuli itu. Tapi baguslah, biar saja, dia hanya merepotkan.”
Ungkapnya dengan raut muka yang datar, tanpa ada penyesalan sedikit pun.
“Ayah
ini ayah macam apa, bukannya sedih karna anak kandungnya hilang, malah
bersyukur. KEJAM, JAHAT” ungkapku dengan nada suara yang menggebu-gebu.
Seketika itu aku membanting pintu rumah dan bergegas pergi meninggalkan rumah.
“Sana,
pergi yang jauh, jangan pernah balik lagi. Sana cari adikmu yang tuli itu, dan
jangan bawa pulang lagi kesini. Kerjaannya Cuma merepotkan.” Jawabnya dengan
marah-marah.
Sepanjang
jalan aku menangis sambil memanggil-manggil nama adikku. “Ina… Ina… Ina…”dan
sempat berkali-kali terjatuh. Hingga sebuah mobil mewah menyerempetku dari arah
belakang. Aku terlempar dan seluruh tubuhku bersimbah darah, namun tidak ada
yang patah. Aku sempat mendengar suara-suara keributan sebelum aku tak sadarkan
diri.
Saat
terbangun, aku sudah berada di kamar yang sangat indah, aku berpikir bahwa aku
sudah mati dan sudah berada di surga. Karna disampingku ada sosok laki-laki
yang sangat tampan dan menawan.
“apakah
aku sudah mati wahai bidadara?” tanyaku
Laki-laki
itu sontak terkejut dan dengan senyum manis dibibirnya menjawab “belum mba,
Alkhamdulillah mba, sudah sadarkan diri.”
“Maksudnya”
jawabku sambil mencoba mengangkat tubuhku.
“Jangan
dulu, kondisi mba masih sangat lemah.” Katanya.
Kemudian
aku menangis, dan laki-laki itu bertanya. “Mengapa menangis dan siapa itu Ina?”
Lalu
aku menjawab dan menceritakan semua kejadiannya, dan laki-laki itu berjanji
akan membantu mencari adikku yang malang itu.
Setelah
beberapa hari, aku diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawatku. Dan
laki-laki itu yang ku panggil dengan “Mas” membantuku mencari. Hingga di suatu
sore aku berhenti di masjid agung yang berada di tengah kota, untuk
melaksanakan sholat ashar. Setelah selesai aku duduk diteras mushola dan
berbincang dengan lak-laki itu. Lalu aku melihat ada seorang anak kecil dari
kejauhan yang sedang bermain dengan asiknya, kuperhatikan dengan seksama. Dan kuhampiri
mereka, dan ternyata di sana ada adikku yang sedang asik melukis dengan kanvas
pada selembar kertas yang sederhana.
Aku
ingat, adikku sangat senang melukis bahkan karna tidak memiliki kanvas dan cat
air, adikku sering menggunakan pewarna kain yang murah. Seketika itu aku
langsung memeluknya dan kami tidak bisa menyembunyikan air mata kita.
“Alkhamdulillahirobbil
ngalamiin , terima kasih ya Alloh telah mempertemukan kami lagi.” Ucapku dalam
hati sambil memeluk Ina.
Ternyata
selama ini Ina dirawat oleh Ibu yang dulu membeli kerupuk dan bunga plastik
saya. Karena Ibu itu bisa berbahasa isyarat (notabene guru SLB), maka Ina
nyaman disitu bahkan disana Ina bisa mengembangkan bakatnya.
Laki-laki
tampan itu melihat-lihat lukisan adikku, dan takjub melihat hasilnya. Kemudian
berkata.
“Wow..
keren sekali lukisannya, artistik sekali, punya nilai estetika yang tinggi.
Bagaimana kalo kita pasarkan lukisan adikmu ini, nanti hasilnya bisa untuk
operasi Cochlear Implant, sehingga adikmu
bisa mendengar?”
Sontak
aku menjawab “Setuju, tapi bagaimana caranya?”
“Tenang
saja, aku punya om yang biasa memasarkan lukisan-lukisan berkelas” jawabnya
dengan santai.
“Tapi
lukisan adikku biasa saja.” Ucapku merendah.
“Kata
siapa, memang tahu apa kamu tentang dunia lukis. Lukisn adikmu ini bercita rasa
tinggi.” Sanjung dia.
“Iya,
iya aku memang orang yang tak berpendidikan.” Ucpaku lagi.
“Bukan
seperti itu maksudku, yang penting ayo kita segera bawa ke tempat pamanku.”
Tegas dia.
“
Iya, iya. Ayo.” Jawabku.
Dengan
perasaan yang tak terduga ternyata lukisan adikku laku dipasaran dan bernilai
lebih dari ratusan juta untuk satu lukisan. Kami kembali ke rumah, dan ternyata
ayahku sakit keras, seketika itu kami saling meminta maaf dan kami membawa ayah
ke rumah sakit.
Ketika
ayah dirawat intensif di rumah sakit ternyata ayah menderita kanker paru
stadium 2b. Dan kala itu juga adikku melakukan operasi Cochlear Implant. Kemudian setelah operasi, adikku sedikit demi
sedikit bisa mendengar, mulai dari mendengar radio hingga mulai bisa
berkomunikasi dengan orang lain.
Ketika
ayahku sudah dipindahkan di ruangan rawat inap, disana kami mengobrol, dan
dipenuhi isak tangis kebahagiaan. Setelah pulang dari rumah sakit kami pindah
rumah, sekarang kami tinggal di lingkungan yang lebih kondusif dan keadaan
rumah yang pantas untuk kita huni. Aku dan adikku melanjutkan sekolah. Adikku
masuk sekolah luar biasa. Dan aku mengejar paket B agar bisa masuk ke SMA. Aku
remaja yang tidak terlalu bodoh, jadi aku bisa mengejar ketertinggalanku.
Kemudian
aku mampu lulus diusiaku yang ke 19 tahun. Kala itu aku juga melanjutkan kuliah
dan mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa, supaya bisa memahami anak-anak
yang memiliki kebutuhan khusus.
Disisi
lain ternyata adikku jauh lebih dewasa dibandingkan aku, adikku yang usianya
lebih muda 8 tahun dari aku. Dia menyumbangkan seperempat uang hasil penjualan
lukisan untuk mendirikan yayasan untuk anak-anak tuna rungu, dan anak-anak yang
memiliki difabilitas lainnya untuk mengembangkan bakat mereka dibalik
kekurangannya. Seketika itu aku yang menjadi pengelolanya.
Ketika
adikku dan ayahku rajin menjalani pengobatan, aku dan ayahku mendengar cerita
adikku di dunia yang sangat sunyi yang pernah ia jalani ketika tidak bisa
mendengar dunia. Yang bisa membutku senantiasa selalu bersyukur kepada Alloh
atas karunia yang ada dihidupku. Setelah bisa mendengar adikku sangat menyukai
suara adzan dan suara ayat suci Al-Quran. Adikku bergumam “Mungkin
sesunyi-sunyinya tak bisa mendengar, lebih sunyi lagi jika kita bisa mendengar
tapi tak pernah mendengar ayat Al-Quran dilantunkan.”
====The
End====






0 komentar:
Posting Komentar